Menyusuri Pantai Kabonga

Senin, 25 Januari 2010


Pesisir pantai itu masih saja didatangi warga, padahal bukan cuma dia satu-satunya pantai indah di kota kecil Donggala, negeri bahari, yang pernah berjaya sebagai kota dagang.
Namanya pantai ‘kabonga’, mestinya sebutan ini dari asal kata bahasa kaili, suku asli setempat. Saya tidak tahu arti kabonga. Apakah ini mungkin berhubungan dengan ‘bonga’, nama kerbau (bubalus), hewan yang menjadi cerita mitos suku-suku kaili di pegunungan tinggi. Konon pegunungan tokelakaju yang membentang dari utara hingga ke selatan di Sulawesi berasal dari kotoran kerbau bernama tolelembonga. Mitos, namun saya yakin nama ini punya arti dan cerita yang berhubungan dengan warga kampung suku kaili di pesisir Teluk Palu.
Setiap orang punya cerita dan kenangan tentang pantai ini, mulai dari cerita horror, dikejar hansip, first love, kesaksian, sampe cerita gelombang dan metafor. Bagi kebanyakan warga Donggala, rasanya tak genap hidup kalo tidak punya cerita dan tidak mampir menyusuri pantai yang panjang garis pantainya tidak lebih dari dua kilo.
Menarik, pantai kabonga menyajikan panorama alam pesisir dengan formasi hutan pantai yang mempertemukan ekosistem darat dan laut. Biasanya, tempat seperti itu memiliki keunikan flora dan fauna, seperti halnya monyet Sulawesi yang terdapat di kebun kopi (parimo), salah satu hewan yang khas di leher Sulawesi ini, tempat terjadinya pertemuan dari dan oleh tumbukan dua pulau. Ada sisa hutan mangrove disana, yang mungkin menyimpan keunikan dengan akar menonjol di pantai dangkal. Hutan ini sangat bermanfaat buat nelayan tradisional. Barisan vegetasi baringtonia, tanaman kelapa, beringin, ketapang, dibelakang pantai, membuat kita merasa sejuk kala siang terik dan terlindungi dari lika liku kehidupan yang keras. Angin dan laut yang teduh di sore hari akan mengundang kita ingin istirahat dan tidak bosan-bosannya menatap lautan, melepaskan beban hari ini.
Sewaktu saya berumur delapan tahun, papi ku yang menjadi karyawan kecil disebuah perusahaan dagang dan mendapat pinjaman motor, seringkali mengajakku menikmati suasana sore hari di pantai ini dan mengenali kampung sekitar. Dari sini, saya menyelami kehidupan para buruh pelabuhan, petani dan nelayan dari kampung sekitar. Mereka menceritakan masa suram paceklik di darat dan laut. Situasi lebih rumit ketika negeri ini menjadi ibukota kabupaten, tanah, kebun-kebun dan pantai mereka digunakan untuk “pembangunan” kantor, sarana dan prasarana lainnya untuk memenuhi kelayakan sebuah kota kabupaten. Gunung-gunung dicukur bulldozer dan pantainya ditimbun, kekayaan dan isi lautan dihisap. Apakah perubahan ini akan berarti?
Saya berharap masih dapat menyusuri pasir pantai kabonga dengan bebas dan menikmati alam dengan gratis, tanpa security. Saya masih mau melewati malam, bersenda gurau dan menikmati cahaya lampu dari perahu nelayan. Saya masih mau bertemu warga kampung di pantai sekitar, sambil menikmati burasa, gogoso, putu dan sambel duo.

……
Gurau mereka
Oh memang akrab dengan alam
Kudengar dari kejauhan
Dan batu batu karang
Tertawa ramah bersahabat
Memaksa aku tuk bernyanyi

(Iwan Fals, Tak Biru Lagi Lautku)
(dari catatan Facebook Angky)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

ayam

Poskan Komentar

Powered by Blogger